Sunday, February 12, 2012

Impian, Target, dan Gol


“Kamu itu tipe target girl..”

Inget banget sama kata-kata yang dibilang salah satu dosen saya waktu dulu kita ngobrol. Dosen ini memang lumayan dekat sama saya karena kita sering tukar pikiran dan diskusi tentang apapun. Bisa tentang hidup, pendidikan, impian, dan bahkan percintaan hihihi.
Beberapa minggu terakhir, otak saya memang sedang bekerja lebih keras. Sebenernya sih bukan karena dipakai buat belajar, tapi karena saya sedang mengevaluasi diri habis-habisan. Postingan saya yang terakhir kemarin masih seputar hidup saya yang sedang berantakan. Sekarang sih sudah mulai baikan, tapi masih ada beberapa hal yang membuat saya khawatir.
Khawatir. Ya, satu kata yang didengar saja sudah menyebalkan, apalagi dirasakan. Huh! Pernah mengalami hidup yang penuh dengan kekhawatiran? Jujur, saya sering. Kebanyakan, kekhawatiran saya muncul karena beberapa target dalam hidup saya tidak sesuai dengan yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari.

Harus saya akui memang, saya hidup dengan banyak target. Mulai dari jangka pendek, jangka menengah, sampai jangka panjang.  Semuanya saya catat dan saya perjuangkan pelan-pelan. Sebenarnya saya itu tipe orang yang spontan. Ini karena saya tau kalau rencana tidak mungkin selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan. Terlebih, hidup itu kan juga butuh improvisasi. Cuma, bagi saya, target tetaplah penting.
  





Salah satu alasan terkuat saya membuat target adalah karena saya punya banyak impian yang ingin saya wujudkan. Katakanlah saya pemimpi ulung, saya selalu bisa menjabarkan dengan rapi dan detil tentang impian apa saja yang sedang saya perjuangkan. Tanpa target, apa jadinya? Ya memang rejeki itu tidak akan pernah tertukar dari satu tuan ke tuan yang lain. Rejeki pun tidak akan lari kemana. Saya tau itu. Tapi, bukankah rejeki juga kadang perlu diperjuangkan? Terlepas pada akhirnya bisa diraih atau tidak. Jadi, target ini saya maksudkan untuk membuat saya mau berjuang dan siap ketika kesempatan menuju pintu impian terbuka buat saya.

Saya juga menjadikan impian-impian saya sebagai gol. Dengan begitu, saya merasa bahwa impian itu perlu dicapai, bukan cuma dimimpikan saja setiap hari. Dengan menjadikannya goal, saya juga harus bekerja keras membiasakan diri mempersiapkan dengar rapi hal-hal yang berkaitan dengan gol saya itu. Memupuk kebiasaan-kebiasaan baik, sekecil apapun itu.

Tapi, beratnya hari-hari di beberapa minggu terakhir ini membuat saya berpikir, apakah saya terlalu ngoyo menjalani hidup? Saya melihat beberapa orang terdekat saya yang selalu bilang: “Aku tuh gak bisa kalau harus begini harus begitu. Aku lebih suka spontan. Ada situasi seperti ini, sesuaikan sikap aja. Gak perlu lah ya menargetkan ini itu. Hidup Cuma sekali, nikmati aja lah!” Mereka juga tampak senang secara fisik dan hampir setiap saat terlihat seperti itu. Hmmm... Apa mungkin karena saya punya banyak target, saya jadi tidak bisa menikmati hidup? Karena itu kah hidup saya terasa penuh dengan kekhawatiran? Entahlah.

Tapi yang pasti, kemarin waktu saya merasa benar-benar down, saya sempat mengeluh sama pacar kalau saya rasa, saya ini orang yang berlebihan, terutama soal pengharapan terhadap target dan impian. Saya merasa impian saya terlalu muluk, saya sok kepedean, saya terlalu optimis, dan lain-lain. Ingin rasanya melepas semuanya, memilih menjalani saja apa yang sudah ada, tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih baik. Ada atau tidak ada peningkatan dari apa yang saya lakukan bukanlah masalah. Tapi, tetap saja rasanya tidak rela kalau impian yang sudah saya rancanakan bertahun-tahun harus dilepas begitu saja.

Akhirnya saya bisa berdamai dengan diri sendiri, menyimpulkan bahwa menikmati hidup itu tidak salah, toh memang hidup cuma sekali. Tapi, mempunyai target dan mengejarnya juga tidak salah. Hidup cuma sekali kan? Berarti kesempatan untuk mengejar apa yang kita inginkan juga cuma sekali kan? Jadi kenapa tidak dimaksimalkan kesempatan itu? Soal menikmati, kadang, proses mengejar impian  plus jatuh bangunnya itu juga nikmat, apalagi ketika impian sudah benar-benar diraih, sangat nikmat!

Terlepas dari semua ini, saya belajar untuk tidak berharap terlalu berlebihan terhadap target, impian, dan gol hidup saya. Tepat setelah saya mengalami beberapa kegagalan minggu lalu, saya menyadarkan diri bahwa kegagalan akan menjadi teman, bukan lagi musuh yang harus selalu dijauhi. Dia adalah bagian nyata dari impian, target, dan gol setiap orang, termasuk saya.

2 comments:

  1. A very well post. I liked the post and have also bookmarked you. All the best for future endeavors.
    Web Design Firm

    ReplyDelete
  2. Thanks a lot for dropping in & leaving a comment :)

    ReplyDelete