Saturday, March 24, 2012

I Don’t Buy Beauty!


Aku tidak takut kehilangan apapun. Hidupku mungkin tak seindah hidup mereka, tapi hidup yang ku punya pastilah hidup yang bermakna.

Sangat aku syukuri, aku hidup bersama keluarga yang bahagia tanpa cacat, walaupun sejujurnya kondisi finansial kami tidak begitu nyaman. Kami bersyukur bisa makan setidaknya tiga kali sehari. Itulah modal hidup kami.

Walaupun hidupku didominasi dengan hari-hari yang berat, aku bersyukur memiliki Bapak dan adik yang menyayangiku dengan loyal. Mereka selalu bersedia meringankan hidupku dengan mengantarku kemanapun dan menjemputku setelahnya.

Yang terpenting, walaupun aku tidak cantik, aku tak pernah benar-benar sedih akan hal ini. Masih banyak hal yang kadang membuatku bangga pada diriku sendiri. Salah satunya, aku sudah memiliki kesadaran sejak dini tentang prioritas hidupku. Bisa saja aku menghabiskan gaji bulananku untuk merawat diri ke salon kecantikan. Sungguh ini perkara yang sangat gampang. Tapi, aku sangat sadar itu bukan prioritasku. Prioritasku adalah sekolah-jembatan menuju mimpiku. Prioritas keduaku adalah biaya transportasi dan biaya sehari-hari lainnya. Jadi, biarlah jelek dan hancur begini, tapi aku bangga karena tidak memilih membunuh impian terbesarku hanya gara-gara terpikat keinginan duniawi.

Biarlah saja banyak yang mengabaikanku, meninggalkanku, merendahkanku, bahkan menghianatiku hanya karena aku tidak cantik secara fisik. Pada akhirnya, merekalah yang tidak akan pernah layak menemaniku berlari mengejar impian.



happily dedicate this post to those who always heartlessly tell me I am ugly, dark-skinned, and many other shitty sayings.. thanks! ^^

Wednesday, March 21, 2012

The Yummy Madre!

I’m not a die-hard fan of Dewi Lestari. To be honest, I don’t really like one of her book, Perahu Kertas. It’s just too ordinary, I think.

Yet, I’ve read some of her books. I love Filosofi Kopi, especially Rico de Coro. And lately I just read “Madre” that I borrowed from my friend.

All I wanna say is that Dee has a great way of telling story. The choice of words, the plot, and all the thing she writes in Madre are hypnotic! I just love “Madre” too J



This is the quote of the book that I love the most:
“Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”

When Bali Can’t Really Impress Me..

I know that it’s been weeks I didn’t write a thing here. Honestly, I’m just feeling madly lazy lately. And the most terrible part is that I don’t know why. I’m still looking for the basic cause of this kinda bad feeling though.

Anyway, I just want to remember what I experienced last month. Well, I went to the most beautiful island in Indonesia, people say. Yep, Bali Island. It was my uni project that we had to go to Bali for “study” tour. Haha, you guys know what I mean, right?

Unhappily, I just felt it didn’t feel like when I was there on the first time, when I was in Senior High School. It was so hot and the weather was completely unfriendly. Besides, it might be because we visited the same places that I visited before. Nothing’s special, including the feeling of being there.

Yet, I kinda get happy when we went to Kuta Beach. I don’t like a beach, but it was nice to be there. Again, I didn’t know why.

Here are some pictures I took there.







I expected something more from Bali, but I didn’t get what I really wanted. In the event, I just felt that Bali failed to impress me with all the beauty it has.

Saturday, February 25, 2012

I’m in Love with “Book in Love”

Dua minggu yang lalu adalah minggu tersibuk saya. Tapi jujur, saya merasa sangat puas dan senang setelahnya. Ya, waktu itu saya diminta sama Mas Ginanjar TeguhIman buat jadi MC di acara “Book in Love” bareng sama Osy. Seperti biasa, saya langsung bilang “YA!”. Apalagi setelah dijelaskan konsep acara dan kegiatan-kegiatan di “Book in Love” ini, wah makin antusias rasanya.

Ternyata benar, kegiatan-kegiatannya sangat menyenangkan dan memuaskan. Gimana gak puas coba, acara ini diadakan dari tanggal 13 sampai 19 Februari dengan kegiatan yang berbeda setiap harinya.

Hari pertama, ada penampilan dari teman-teman kampus saya, teater dari Bengkel SeniUniversitas Tidar Magelang. Sumpah, kocak banget penampilan mereka! Banyak penonton yang terpingkal-pingkal selama menonton, termasuk saya hehe.

Hari kedua, ada nonton bareng film Ada Apa dengan Cinta. Kebetulan hari itu tepat diperingatinya 10 tahun AADC, film yang memang jadi stimulus reinkarnasi dunia perfilman Indonesia.

Hari ketiga, kita diskusi bersama Bapak Haryanto Corakh atau biasa disapa Cak Roto. Beliau adalah Program Designer film Emak Ingin Naik Haji. Tau kan? Yang pemeran utamanya sexy nya naujibillahiminzalik itu, Reza Rahardian. Awwwhhh, gantengnya gak punya toleransi dia! Obrolan dengan Cak Roto sangat menarik, apalagi beliau membagi banyak cerita dan pengalaman dalam menulis skenario film-film tanah air. Selain itu, beliau juga berbagi cerita tentang bukunya yang berjudul “Unlimited Love”.

Hari keempat, ada nonton bareng film Kambing Jantang. Tau lah ya film ini diangkat dari novel karangan Raditya Dika, penulis yang otaknya diluar batas kewajaran seorang manusia kalau menurut saya. Daya imajinasinya juga kadang terlalu konyol, tapi lucu banget!

Hari kelima, seneng banget bisa ketemu sama Brilliant Yotenega atau Mas Ega dari nulisbuku.com. Jadi, nulisbuku.com itu adalah situs yang mempermudah semua penulis buat menerbitkan bukunya dengan cara self-publishing. Saya dapat banyak sekali ilmu dan pengetahuan tentang bagaimana cara menerbitkan buku selama diskusi ini. Lebih dari itu, saya merasa kepercayaan diri saya bertambah waktu Mas Ega bilang: “Semua orang bisa jadi penulis. Semua orang bisa menerbitkan bukunya sendiri.” Ah, benar-benar tidak rugi datang dan ikut diskusi ini.

Hari keenam, ada peluncuran buku dari tiga penulis Magelang. Ada Ginanjar Teguh Iman yang meluncurkan buku kumpulan cerita “Cerita Hujan” dan Andhika John Manggala yang meluncurkan “Soegito Times”. Dua buku itu bisa didapat di nulisbuku.com mulai bulan Maret. Setelah itu, ada diskusi bersama Lusia Dayu, penulis asli Magelang juga, yang sudah menerbitkan enam buku. Wow!

Hari terakhir, ini yang paling seru, ada diskusi bareng sama dua penulis nasional dari Gagas Media, Christian Simamora dan Orizuka. Setelah itu ada peluncuran antologi curahan hati “Dear, Love”. Nah, buku ini adalah kumpulan cerita yang lolos Dear Love Competition yang juga diadakan sama “Book in Love”. Saya termasuk salah satu dari 20 orang yang lolos. Bukunya bisa didapat di nulisbuku.com mulai bulan Maret. Beli ya! Hehe.

Selama acara Book in Love, ada juga bazar buku dari penerbit nasional, diantaranya Mizan dan Gagas Media. Buku-bukunya lengkap dan terjangkau. Kalau saya bandingkan dengan beberapa tempat lain, harga buku di bazar “Book in Love” ini lebih murah. 

Hmm... sayang sekali, pengunjung acara ini tidak banyak. Padahal saya pribadi merasa sangat beruntung bisa datang ke acara ini karena semua kegiatannya positif dan sangat bagus untuk anak-anak muda di Magelang. Apalagi, acara ini terbuka untuk umum dan GRATIS. Menurut saya, ketimbang tidur di rumah, mending datang ke “Book in Love”.

Oya, denger-denger dari koordinatornya, acara ini akan diadakan secara kontinyu. Wah, senang sekali. Semoga bisa mendatangkan penulis-penulis favorit saja juga buat berbagi ilmunya. Semoga peminat acara ini juga makin banyak.

After all, biarpun acara “Book in Love” ini baru yang pertama di Magelang, semuanya sukses dan memuaskan. Thank you, Mas Ginanjar Teguh Iman. Your creativity changes Magelang a lot! I love “Book in Love”, to be frank!

Sunday, February 12, 2012

Impian, Target, dan Gol


“Kamu itu tipe target girl..”

Inget banget sama kata-kata yang dibilang salah satu dosen saya waktu dulu kita ngobrol. Dosen ini memang lumayan dekat sama saya karena kita sering tukar pikiran dan diskusi tentang apapun. Bisa tentang hidup, pendidikan, impian, dan bahkan percintaan hihihi.
Beberapa minggu terakhir, otak saya memang sedang bekerja lebih keras. Sebenernya sih bukan karena dipakai buat belajar, tapi karena saya sedang mengevaluasi diri habis-habisan. Postingan saya yang terakhir kemarin masih seputar hidup saya yang sedang berantakan. Sekarang sih sudah mulai baikan, tapi masih ada beberapa hal yang membuat saya khawatir.
Khawatir. Ya, satu kata yang didengar saja sudah menyebalkan, apalagi dirasakan. Huh! Pernah mengalami hidup yang penuh dengan kekhawatiran? Jujur, saya sering. Kebanyakan, kekhawatiran saya muncul karena beberapa target dalam hidup saya tidak sesuai dengan yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari.

Harus saya akui memang, saya hidup dengan banyak target. Mulai dari jangka pendek, jangka menengah, sampai jangka panjang.  Semuanya saya catat dan saya perjuangkan pelan-pelan. Sebenarnya saya itu tipe orang yang spontan. Ini karena saya tau kalau rencana tidak mungkin selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan. Terlebih, hidup itu kan juga butuh improvisasi. Cuma, bagi saya, target tetaplah penting.
  





Salah satu alasan terkuat saya membuat target adalah karena saya punya banyak impian yang ingin saya wujudkan. Katakanlah saya pemimpi ulung, saya selalu bisa menjabarkan dengan rapi dan detil tentang impian apa saja yang sedang saya perjuangkan. Tanpa target, apa jadinya? Ya memang rejeki itu tidak akan pernah tertukar dari satu tuan ke tuan yang lain. Rejeki pun tidak akan lari kemana. Saya tau itu. Tapi, bukankah rejeki juga kadang perlu diperjuangkan? Terlepas pada akhirnya bisa diraih atau tidak. Jadi, target ini saya maksudkan untuk membuat saya mau berjuang dan siap ketika kesempatan menuju pintu impian terbuka buat saya.

Saya juga menjadikan impian-impian saya sebagai gol. Dengan begitu, saya merasa bahwa impian itu perlu dicapai, bukan cuma dimimpikan saja setiap hari. Dengan menjadikannya goal, saya juga harus bekerja keras membiasakan diri mempersiapkan dengar rapi hal-hal yang berkaitan dengan gol saya itu. Memupuk kebiasaan-kebiasaan baik, sekecil apapun itu.

Tapi, beratnya hari-hari di beberapa minggu terakhir ini membuat saya berpikir, apakah saya terlalu ngoyo menjalani hidup? Saya melihat beberapa orang terdekat saya yang selalu bilang: “Aku tuh gak bisa kalau harus begini harus begitu. Aku lebih suka spontan. Ada situasi seperti ini, sesuaikan sikap aja. Gak perlu lah ya menargetkan ini itu. Hidup Cuma sekali, nikmati aja lah!” Mereka juga tampak senang secara fisik dan hampir setiap saat terlihat seperti itu. Hmmm... Apa mungkin karena saya punya banyak target, saya jadi tidak bisa menikmati hidup? Karena itu kah hidup saya terasa penuh dengan kekhawatiran? Entahlah.

Tapi yang pasti, kemarin waktu saya merasa benar-benar down, saya sempat mengeluh sama pacar kalau saya rasa, saya ini orang yang berlebihan, terutama soal pengharapan terhadap target dan impian. Saya merasa impian saya terlalu muluk, saya sok kepedean, saya terlalu optimis, dan lain-lain. Ingin rasanya melepas semuanya, memilih menjalani saja apa yang sudah ada, tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih baik. Ada atau tidak ada peningkatan dari apa yang saya lakukan bukanlah masalah. Tapi, tetap saja rasanya tidak rela kalau impian yang sudah saya rancanakan bertahun-tahun harus dilepas begitu saja.

Akhirnya saya bisa berdamai dengan diri sendiri, menyimpulkan bahwa menikmati hidup itu tidak salah, toh memang hidup cuma sekali. Tapi, mempunyai target dan mengejarnya juga tidak salah. Hidup cuma sekali kan? Berarti kesempatan untuk mengejar apa yang kita inginkan juga cuma sekali kan? Jadi kenapa tidak dimaksimalkan kesempatan itu? Soal menikmati, kadang, proses mengejar impian  plus jatuh bangunnya itu juga nikmat, apalagi ketika impian sudah benar-benar diraih, sangat nikmat!

Terlepas dari semua ini, saya belajar untuk tidak berharap terlalu berlebihan terhadap target, impian, dan gol hidup saya. Tepat setelah saya mengalami beberapa kegagalan minggu lalu, saya menyadarkan diri bahwa kegagalan akan menjadi teman, bukan lagi musuh yang harus selalu dijauhi. Dia adalah bagian nyata dari impian, target, dan gol setiap orang, termasuk saya.

Friday, February 10, 2012

Cheering Myself Up

Last week was a very shocking week for me. Something bad happened to me. I don’t think I can explain now, but when it’s final, I will tell you. Well, whenever I feel life gets hard and problems keep coming around, I always take time to evaluate and observe what has happened. It’s not easy indeed. I tend to be subjective at evaluating my failure. I see that the problems are not on me somehow. Then I turn to be so wicked that I really believe that my failure is caused by others. Fortunately, as I keep doing things, I try to be positive and objective in seeing my failure that all the things that come to me are the consequences of what I have done before. It’s difficult to realize it, but it’s better for me to be like this.

Magically, after I accept the whole thing, my heart got better. It wasn’t miserable anymore. And I decided to face the life rationally that failure is a good part of life, of course depending on how we see it. Then, to be honest, I feel so much better now. And I promise I don’t want have such failure because I’m not a fool.

Anyway, during my tough times, I heard Coldplay’s Fix You very often. I just love this song! There is the most realistic, motivational, and awesome story behind the song. I enjoy every single word on the lyrics. Well, you can check the video (which is also cool!) and the lyrics below. See ya, anyway!




When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

And high up above or down below
When you're too in love to let it go
But if you never try you'll never know
Just what you're worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down your face
And I

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down your face

And I
Lights will guide you home
  And ignite your bones And I will try to fix you

taken from: here

Tuesday, February 7, 2012

Uninspired

Memang benar perasaan seseorang itu gampang sekali berubah. Bisa jadi saya merasa sangat senang, tapi satu detik kemudian, mood rontok dan berserakan. Pernah merasa begitu?

Phew, sebenernya saya sebal kalau harus mengeluh. Cuma, saya lebih menganggap postingan kali ini bukan sebagai keluhan, tapi sebagai curahan hati saja. Hehehe alibi yah.

Beberapa hari terakhir, saya merasa sedang mengalami ketidakberuntungan yang bertubi-tubi. Saya curiga, apa mungkin karena pengharapan saya yang terlalu tinggi sama bulan Februari ya? Yap, saya memang sudah sangat menanti-nantikan bulan ini karena akan ada banyak hal menyenangkan yang bisa saya lakukan. Tapi, ternyata baru sampai di awal bulan saja, saya sudah merasakan sakit hati yang luar biasa. Pengen sih cerita soal yang ini, tapi nanti saja lah, soalnya juga belum pasti. Yang pasti, sampai di hari ke tujuh di bulan Februari ini, saya merasa benar-benar sedang drop.

Hidup itu memang tidak selalu adil. Dunia ini punya banyak ketimpangan. Ya, saya sangat sadar akan hal itu. Tapi, menyadari saja adalah perkara mudah. Kalau harus menerima semua ketidakadilan dan ketimpangan itu, susahnya bukan main. Apalagi ketika kita harus menerima kenyataan bahwa orang-orang di sekitar kita ada dalam kondisi berbanding terbalik. Mau curhat, mau cerita, jatuhnya malah makin sakit hati. Mungkin ini karena faktor saya-nya kali ya yang memang sensitif maksimal. Cuma saya selalu mikir, curhat sama orang yang tidak ada atau belum pernah ada dalam kondisi yang kita alami itu sama dengan sia-sia. Mereka akan sangat gampang menasehati dari A sampai Z kembali ke A lagi dan berakhir di Z dengan lancar. Ya, karena mereka tidak benar-benar mengalami. Apalagi, saya rasa sangat sedikit sekali orang didunia ini yang pandai ber-empati.

Saya punya beberapa teman yang cukup dekat. Mereka suka menemui saya kalau lagi pengen curhat. Ya saya sih seneng-seneng aja kalo dicurhatin, soalnya saya suka sama proses percakapan dengan setiap teman/orang sekitar. Dari situlah saya bisa belajar banyak tentang hidup dan segala macam esensi, tragedi atau drama di dalamnya. Cuma, kadang saya sebel sama mereka yang deket-deketin saya tiap ada masalah atau mau cerita aja, tapi giliran saya yang butuh cerita, mereka gak pernah ada. Uh, berasanya saya cuma tempat sampah curhatan mereka aja. Mungkin, inilah yang membentuk kepribadian saya jadi lebih introvert. Saya lebih suka diam, menangis, merenungi kegagalan, mengevaluasi diri, menulis, dan menyemangati diri sendiri untuk melangkah lagi. Begitulah, siklus hidup yang hanya berputar-putar dan selalu seperti itu sejauh ini, selama hampir 22 tahun.

Tidak hanya satu dua kali saya merasa sendiri. Merasa bahwa tidak ada seorang pun yang bisa memahami. Saya selalu menguatkan, memarahi, dan mendisiplinkan diri sendiri. Bahkan, menangis sudah menjadi salah satu hal yang paling saya sukai. Mungkin karena saya sudah terlalu terbiasa dengan hal itu.

Pada sisi ini, hidup saya terdengar terlalu miris yah. Kadang, saya sempat mikir ingin menyerah. Melepaskan semua impian dan membiarkannya disapu angin sampai beterbangan lalu hilang. Karena saya merasa segala yang saya impikan selama ini terlalu muluk. Kadang saya juga ingin melepaskan diri sendiri, tidak terlalu menuntutnya untuk begitu begini, tidak memaksanya melakukan hal-hal yang menguras pikiran dan hati. Kadang saya memang benar-benar ingin menyerah. Tapi… selalu saja, ada sebagian kecil, sangat kecil, dari hati ini yang tidak pernah rela. Dia selalu mengingatkan betapa banyak perjuangan berat dan melelahkan yang sudah dilalui. Betapa kegagalan memang harus menghampiri dan benar-benar menjadi bagian dari jalan ini. Betapa sayang kalau impian hanya diperjuangkan tanpa sampai ke titik maksimal. Ah, saya galau. Hidup ini memang sangat gampang membuat saya galau.

Yang jelas, saya sedang merasa sangat tidak bersemangat. Mentally and physically uninspired. Entah mau apa dan bagaimana sekarang. Yang pasti, sebagian kecil dari hati saya yang tidak menginginkan saya menyerah itu, masih terus menuntun untuk melakukan semua yang sudah menjadi tanggung jawab. Membiarkan saya mengeluh dan lalu kembali menyemangati saya dengan bisikan-bisikan penuh motivasi. Dan semoga, saya benar-benar tidak akan pernah menyerah…..